BERITA

Menjadi Bagian Dari Suatu Moment Pemecahan Rekor MURI Kabupaten Magelang Tari Soreng Massal 10.000 Penari

28-10-2020

Oleh : Rina Ambarsari

Di tengah kerumunan massa yang begitu banyak, terdapat 40 siswa SMP Marsudirini Marganingsih Muntilan yang dengan semangat dan penuh keyakinan melestarikan budaya bangsa Indonesia, khususnya kesenian khas Kabupaten Magelang.
Pada hari Senin tanggal 28 Oktober 2019 di Lapangan Drh. Soepardi dan sepanjang jalan Soekarno Hatta Kota Mungkid Kabupaten Magelang, mereka bersama dengan penari lainnya dari berbagai sekolah di seantero Kabupaten Magelang menarikan suatu tarian yang merupakan warisan leluhur sebagai suatu simbol kegagahan dan kesiapan para prajurit dalam membela tanah air, yaitu Tari Soreng. Di bawah terik matahari yang menyengat sekitar pukul 10.00 WIB, mereka membawakan tarian khas Kabupaten Magelang tersebut.

Sejarah Tari Soreng :

Kesenian Tari Soreng merupakan kesenian asli masyarakat Jawa yang konon merupakan pengejawantahan babad atau cerita rakyat. Kesenian tersebut dimainkan dalam upacara adat atau hajatan besar. Kesenian Soreng  merupakan kesenian yang diadopsi dari kisah Aryo Penangsang dan para prajuritnya.

Pada suatu ketika saat sedang berlatih perang Haryo Penangsang kedatangan seorang pekatik yang daun telinganya dipotong dan diberi surat tantangan di lehernya. Haryo Penangsang langsung meladeni tantangan tersebut. Diceritakan dalam perang tersebut, Haryo Penangsang gugur di medan laga.

Kesenian tarian ini dulu populer dengan nama Tari Keprajuritan dengan bentuk pertunjukannya berupa tari kelompok. Kesenian ini berkembang di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andong tepatnya di Dusun Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Ciri-ciri dari Tari Soreng  antara lain terlihat dari geraknya yang sangat sederhana, mudah, dan spontan. Setiap orang yang mau mempelajari Tari Soreng ini mayoritas pasti cepat bisa. Meskipun sederhana, gerakan Tari Soreng memiliki susunan gerak yang rancak dan kompak serta diulang-ulang. Gerakan tari yang digunakan diambil dari gerak Tari Keprajuritan yang disederhanakan. Tarian ini dilakukan secara berkelompok atau massal. Selain kompak gerakan tarian ini menyiratkan gerakan sedang berlatih bela diri dan didominasi gerakan kaki seperti perang berkuda.

Musik yang digunakan pada tari ini menggunakan musik tradisonal Jawa seperti kendang, bonang, kethuk, kempul, bendhe, bahkan sekarang dimodifikasi dengan drum. Selain itu ciri yang ada pada Tari Soreng ini adalah tata rias yang merupakan unsur pendukung dalam sajian tariannya. Fungsi tata rias pada tarian ini adalah untuk mengubah karakter kepribadian tokoh yang sedang diperankan. Riasan yang digunakan pada tarian ini adalah rias gagah yang bertujuan memperkuat karakter tokoh prajurit yang gagah perkasa.

Saat ini Tari Soreng berkembang pesat di seputar Gunung Merbabu,  Merapi, Telomoyo, Andong, Sindoro, dan Sumbing. Setiap ada festival maupun hajatan, Tari Soreng selalu ditampilkan. Sebuah warisan budaya yang layak terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, untuk datang ke Indonesia khususnya Kabupaten Magelang.

Bahkan Tari Soreng pernah menghiasi layar televisi, yaitu pada saat upacara bendera memperingati HUT RI yang ke-74. Tari Soreng khas Magelang ditampilkan di Istana Negara dan disaksikan oleh Presiden RI, Bapak Ir. H. Joko Widodo beserta seluruh peserta upacara dan penonton televisi di seluruh Indonesia.

            Sebagai puncak penampilan Tari Soreng adalah pada tanggal 28 Oktober 2019 bertepatan dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata RI tingkat Kabupaten, mengadakan kegiatan Pemecahan Rekor Muri Tari Soreng Massal 10.000 penari. Setelah 1 bulan persiapan Tari Soreng yang diikuti oleh 10.000 siswa SD, SMP dan umum, dan dipimpin langsung oleh Bupati Magelang, Bapak H. Zaenal Arifin berhasil mendapatkan sertifikat Rekor Muri 10.000 Penari Soreng.

Di sinilah andil SMP Marsudirini Marganingsih yang menjadi garam di lautan penari Soreng dan dengan semangat membara, membawa nama baik sekolah. Suatu moment yang sulit untuk dilupakan khususnya bagi 40 siswa penari Soreng, bahwa mereka sudah ikut menjadi bagian dari sejarah. Apresiasi untuk mereka yang dengan penuh semangat sudah ikut tampil dan menjadi bagian dari sejarah. Itu semua berkat ketekunan berlatih dan belajar dengan pendampingan pelatih dan bapak ibu guru.



*Artikel ini pernah dimuat pada Majalah Genta Th.XXI/ Edisi LXXVI/ Desember 2019.

kembali