BERITA

KEBENCIAN BERUBAH MENJADI PERSAHABATAN

21-10-2020

Oleh : Juan Persia Vanescia (Kelas VIII B)

Dina seorang siswi kelas VII SMP adalah anak orang berada. Setiap pulang dan pergi sekolah Ia selalu dijemput oleh sopir pribadi. Dari fasilitas yang dimiliki oleh orang tuanya yang berlebih, Dina tumbuh menjadi anak yang manja, sombong, dan suka membully teman-temannya terutama pada teman sekelasnya yang bernama Lydia. Lydia berasal dari keluarga yang sederhana, namun Dina selalu iri pada Lydia karena rajin dan pandai. Bahkan Lydia juga sering mendapat prestasi di bidang sains.
Pada suatu hari Pak Bertus mengumumkan bahwa akan diadakan seleksi pada mata pelajaran Matematika, untuk mengikuti lomba di tingkat Kabupaten dalam masa pandemi ini. Pagi itu Pak Bertus menyampaikan pengumuman melaui grup WA. Dina dan Lydia serta beberapa siswa lainnya mengikuti seleksi tersebut dari rumah masing masing. Seleksi dilakukan secara ketat dan Lydia mendapat nilai tertinggi, sehingga Lydia yang akan mewakili sekolah untuk lomba di tingkat Kabupaten. Kebencian Dina pada Lydia semakin bertambah. Sambil menatap layar handphonenya Dina menggerutu. “Huh, dia lagi…dia lagi!! Selalu saja anak kampungan itu”, kata Dina.
 
Waktu yang ditentukan akhirnya tiba juga. Hari itu Lydia memenangkan lomba di tingkat Kabupaten dan selanjutnya akan mewakili Kabupaten untuk lomba di tingkat Provinsi. Semakin lama Dina semakin tidak tahan. Dina menulis chat kepada Lydia yang berisi kata-kata penuh kebencian, “Heh Lydia, kamu ini jangan sok pintar ya!” Lydia membalas chat Dina dengan sedikit ketakutan, “Maksudnya apa Din? Aku gak ngerti.” “Kamu jangan sok hebat dalam lomba sains itu ya!” tulis Dina lagi. “Dina, setiap manusia itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika kamu mau berusaha kamu juga pasti akan bisa.” tulis Lydia menasihati Dina. Melihat chat itu, Dina langsung mengakhiri chattingnya dengan Lydia dan membanting handphonenya dengan kesal. Dina membaringkan tubuhnya di kasur sambil memikirkan pesan terakhir dari Lydia tadi. Nasihat dari Lydia tadi membuat Dina merasa bersalah. Sebenarnya Dina sudah mencoba untuk rajin belajar, tapi usahanya itu hanya sia-sia karena tidak ada sama sekali yang dipahaminya.
 
Hari-hari berlalu dan tibalah saat Penilaian Akhir Semester. Masih banyak materi pelajaran yang belum dipahami oleh Dina. Dan semakin lama kebenciannya pada Lydia pun memudar. Dina mencoba untuk minta maaf pada Lydia dan Lydia dengan senang hati memaafkan Dina. Selanjutnya, Lydia bersedia membantu Dina untuk belajar Matematika dalam menghadapi Penilaian Akhir Semester. Sekarang mereka sering belajar bersama. Dalam hati Dina merasa senang karena ternyata Lydia adalah teman yang menyenangkan dan mau membantu mengatasi kesulitan Dina. Sejak saat itu Lydia dan Dina berteman baik.
 
Penilaian Akhir Semester telah usai dan tiba saatnya para siswa menerima hasil penilaian mereka. Tak disangka nilai Dina menunjukkan peningkatan. Dina sangat senang dengan hasil kerja kerasnya selama ini belajar bersama Lydia. Siang itu Dina pergi ke rumah Lydia sambil membawa kue kering buatan Mamanya. Sesampainya di rumah Lydia, Dina menghampiri Lydia sambil mengucapkan salam kepada Ibu Lydia dan mencium tangan Ibu Lydia. Di teras rumah mereka mengobrol sambil menikmati segelas es jeruk dan kue kering buatan Mama Dina. Lalu Lydia bertanya pada Dina, “Gimana hasil Penilaian Akhir Semester kamu?” “Terimakasih ya Lyd, berkat kamu nilaiku bisa meningkat”, jawab Dina. “Eehhmm Lydia, boleh tidak kalau aku mau menjadi sahabatmu?” “Boleh saja”, sahut Lydia sambil tersenyum.
Siang itu mereka mengobrol dengan hati yang berbunga-bunga. Dina senang mendapat sahabat baru dan Lydia juga senang melihat Dina sekarang sudah berubah menjadi lebih baik.



Catatan : Cerpen ini terpilih sebagai Juara III dalam Lomba Cipta Cerpen - Kegiatan Jeda Tengah Semester I SMP Marganingsih

kembali