BERITA

BOROBUDUR STUDENT FESTIVAL 2022

05-07-2022

Oleh: Francisca Kumalasari, S.Pd.

Beberapa siswa SMP Marganingsih Muntilan turut berpartisipasi dalam acara Borobudur Student Festival (BSF) pada Selasa, 28 Juni 2022.BSF merupakan wadah untuk mengapresiasi dan merayakan karya siswa peserta program PRESISI (Penguatan Karakter Siswa Mandiri) melalui Kreasi Seni dengan Paradigma Pendidikan Kontekstual Bebasis Proyek.

PRESISI sendiri merupakan sebuah program yang diinisiasi oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan (Kemendikbudristek RI). Meskipun kita belum melaksanakan program PRESISI di sekolah, kita mendapat kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Kakak kita SMA Marsudirini Muntilan, yang sudah melaksanakan program PRESISI menggandeng sekolah kita untuk turut berpartisipasi dalam acara tersebut. Selain sekolah kita, ada banyak sekolah-sekolah lain yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Bukan hanya sekolah dari Provinsi Jawa Tengah saja, tapi juga sekolah dari provinsi lain di Indonesia.

Di tahun ini, BSF diadakan pada tanggal 27 Juni – 2 Juli 2022 dan berlokasi di Balai Konservasi Borobudur dan Canisio Art Center (SD Kanisius Wanurejo Borobudur). Salah satu kegiatan pada BSF adalah pertunjukan di panggung ekspresi. Sekolah kita mendapat kesempatan untuk tampil pada hari Selasa, 28 Juni 2022 pukul 13.00 sampai dengan selesai di panggung ekspresi Canisio Art Center (SD Kanisius Wanurejo Borobudur) dengan didampingi oleh Ibu Rina Ambarsari, S.E., Ibu Mega Yoshinta, S.Pd, dan Ibu Puji Astuti.  SMP Marganingsih menyuguhkan kesenian tari yang dirangkai dalam suatu cerita yang disampaikan oleh Aprilia Kasih Zebua sebagai narator.

Diceritakan bahwa di suatu desa dengan penduduk yang damai dan sejahtera, sering diadakan pesta dengan tarian sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas rahmat keselamatan penduduk desa. Tarian itu adalah Tari Krincing Manis yang ditampilkan oleh Antonia Meysherly Ferayu Widyaningsih, Lisabrina Rahma Pikatan, dan Yesika Angelina Fisthania Raharja.

Desa itu dipimpin oleh seorang Manggala (pemimpin yang baik dan bijaksana) yang sering memberi nasihat kepada penduduk desa sehingga penduduk desa mengerti dan menghargai arti kehidupan. Sebagai wujud terimakasih penduduk kepada Sang Manggala tersebut, beberapa penduduk desa menarikan Tari Turi-Turi Putih yang ditampilkan oleh Maria Yelika, Stevani Amanda Widi Wulandari, dan Anastasia Erlina Arintawati. Tarian ini juga mengingatkan tentang pentingnya kehidupan yang diisi dengan segala hal yang baik sebelum kematian datang.
Suatu ketika, Sang Manggala berkenan untuk datang menjumpai penduduk desa. Karena pesona dan kegagahan Sang Manggala, terciptalah Tari Gagah Manggala yang ditampilkan oleh Katarina Hermione Estetika Rachel.

Hal-hal baik dari kepemimpinan Sang Manggala ternyata tidak selalu diterima dengan baik oleh beberapa penduduk desa sehingga menimbulkan hal yang tidak baik, kemarahan, dan ketidaksetujuan namun tetap patuh dan tunduk terhadap Sang Manggala. Hal ini digambarkan lewat Tari Gedrug/ Tari Rampak Buto yang ditampilkan oleh Fabianus Bima Surya Pratama, Rendi Kurniawan, Stevanus Brian Kurniawan, dan Sirilus Wikan Makantar.

Di akhir cerita, penduduk yang marah dapat diredam bersama-sama oleh Sang Manggala dan penduduk yang baik sehingga mereka bisa bersama-sama menciptakan kondisi desa yang rukun, guyup, damai, dan sejahtera. Seperti motto SMP Marganingsih Muntilan “Guyup Tinandur Panen Sedulur” yaitu dengan menanamkan hal-hal yang baik, yaitu kebersamaan, kesederhanaan, kejujuran, dan karakter yang baik akan menumbuhkan kesejahteraan dan persaudaraan. 

Penampilan dari SMP Marganingsih ternyata menyita perhatian dan mendapatkan apresiasi setiap mata yang menyaksikan. Sepatutnya kita berbangga sebagai keluarga SMP Marganingsih Muntilan yang tidak hanya mengasah kecerdasan saja tapi juga dibutuhkan keterampilan dalam mengisi kehidupan yang baik melalui seni, budaya, kebiasaan-kebiasaan baik, maupun penanaman karakter yang baik di sekolah supaya motto SMP Marganingsih dapat kita terapkan bersama.

kembali